Analisis Strategi Efektif Perintisan Serta Pengembangan Usaha Untuk Mahasiswa Dalam Menghadapi MEA dan Revolusi Industri 4.0
Analisis Strategi Efektif Perintisan Serta Pengembangan Usaha Untuk Mahasiswa Dalam Menghadapi MEA dan Revolusi Industri 4.0
A.
Latar Belakang
Masyarakat
Ekonomi ASEAN (MEA) dan Revolusi Industri 4.0 merupakan
tantangan yang perlu diperhatikan oleh setiap elemen di bangsa ini, terutamanya
mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa seperti yang dikatakan Wesaka Puja
sebagai Dirjen Kerjasama ASEAN dari Kementrian Luar Negeri RI pada PKKMB UNS
tahun 2014 dalam https://uns.ac.id/id/uns-update/mahasiswa-baru-program-diploma-mendapat-kuliah-umum-dari-dirjen-kerjasama-asean.html, beliau mengatakan bahwa mahasiswa harus menyiapkan
diri menghadapi MEA, yang mana diketahui MEA dan Revolusi Industri 4.0 tidak
dapat dilepaskan . Para mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa perlu
memperhatikan MEA dan Revolusi Industri 4.0 sebagai tantangan yang perlu
dihadapi dengan serius dan bijak, hal tersebut didukung oleh pendapat
SantosoTri Hartanto sebagai Direktur Sekolah Vokasi Universitas Sebelas Maret di https://uns.ac.id/id/uns-update/jiwa-kompetitif-dan-visioner-strategi-pasca-era-revolusi-industri-4-0.html bahwa Revolusi Industri 4.0 yang mana berkaitan dengan proses bisnis
dan MEA perlu dihadapi dengan serius agar dapat mengambil peluang dari hal
tersebut. Banyak dampak positif
serta dampak negatif yang telah, sedang dan akan dialami oleh bangsa ini oleh
karena Masyarakat Ekonomi ASEAN dan juga Revolusi Industri 4.0.
Tidak dapat dipungkiri bahwa MEA, dan
juga revolusi industri 4.0 memiliki berbagai dampak positif mupun negatif bagi
bangsa ini. Seperti dikutip dalam https://kumparan.com, dengan adanya MEA, pada sisi perdagangan, berakibat pada
peningkatan ekspor yang mana berakibat pada GDP Indonesia, selain itu di sisi
investasi, MEA dapat menciptakan iklim yang mendukung masuknya Foreign Direct Investment (FDI) yang
mana berakibat pada pertumbuhan ekonomi melalui perkembangan teknologi,
pengembangan SDM, penciptaaan lapangan kerja dan akses yang lebih mudah kepada
pasar.Pada sisi ketenagakerjaan, dengan adanya MEA maka akan meningkatnya
lapangan pekerjaan. Walaupun begitu kita
tidak dapat melupakan efek negatif dari adanya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), dengan
adanya MEA terjadi dampak negatif pada berbagai sisi, diantaranya sisi kompetisi, sisi eksploitasi dan sisi
ketenagakerjaan. Pada sisi kompetisi akan banyak barang mengalir ke negeri
sehingga produk lokal dapat kalah bersaing dengan produk asing. Pada sisi
ketenagakerjaan, banyak tenaga kerja asing akan masuk ke Indonesia dikarenakan
adanya pasar barang dan jasa secara bebas. Pada sisi Eksploitasi akan adanya
penggerusan Sumber Daya Alam oleh negara asing. Selain MEA kita perlu melihat
Dampak Positif dan dampak negatif Revolusi Industri 4.0, Revolusi Industri 4.0
memiliki banyak dampak positif diantaranya adalah bertambahnya lapangan
pekerjaan, hal tersebut didukung oleh pendapat M Hanif Dhakiri sebagai Menteri
Ketenagakerjaan RI dalam sebuah seminar nasional yang dimuat dalam https://m.cnnindonesia.com,
M Hanif Dhakiri mengatakan bahwa 3,7 juta pekerjaan baru akan muncul sebagai
dampak ekonomi digital, hal tersebut didukung dengan fenomena munculnya
pekerjaan baru sebagai akibat revolusi industri 4.0 contohnya Social Media Strategist, Content Creator,
SEO specialist, Cyber Security dan lain sebagainya, profesi – profesi baru
mungkin akan muncul lagi seiring bertumbuhnya industri dalam era revolusi
industri 4.0. Walaupun memiliki dampak positif, tidak dapat dipungkiri bahwa
Revolusi Industri 4.0 juga memiliki dampak negatif, salah satunya adalah
hilangnya banyak pekerjaan, berdasarkan sebuah studi yang dilakukan oleh
McKinsey Global Institute yang dimuat
dalam kompas.com menyatakan bahwa pada tahun 2030 sebanyak 375 juta pekerjaan
akan digantikan oleh mesin, hal tersebut didukung oleh laporan yang dirilis
oleh Oxford Economics bahwa pada
tahun 2030 robot diprediksi menggantikan pekerjaan manufaktur di seluruh dunia.
Dampak Revolusi industri 4.0 membuka banyak lapangan pekerjaan baru tetapi juga
menutup banyak bidang pekerjaan yang awalnya dikerjakan oleh manusia yang mana
diambil alih oleh mesin.
Melihat salah satu dampak negatif dari
MEA dan juga Revolusi Industri yang berkaitan dengan ketenagakerjaan, seorang
mahassiwa yang memiliki panggilan sebagai profesional dalam segala hal entah
dari teknisi, akademisi dan lain sebagainya seharusnya tidak hanya berfokus
pada pencarian lapangan pekerjaan sebagai hal terutama tetapi mahasiswa yang
memiliki panggilan sebagai profesional seharusnya berfokus pada perintisan dan
pengembangan usaha berdasarkan inovasi berdasarkan profesi yang ditekuni, contohnya
seorang guru tidak hanya berfokus pada panggilan pekerjaan sebagai guru di
suatu sekolah tetapi memiliki visi lebih lagi untuk membuat sekolah yang efektif untuk belajar para siswa, begitu
pula dengan teknisi yang tidak hanya berfokus pada panggilan perusahaan yang
dituju, tetapi dapat mendirikan perusahaan yang dapat menghasilkan banyak karya
inovatif, hal tersebut senada seperti yang dikatakan oleh Kepala Direktur
MarkPlus Inc, Jacky Mussury dalam https://uns.ac.id/id/uns-update/jiwa-kompetitif-dan-visioner-strategi-pasca-era-revolusi-industri-4-0.html, beliau mengatakan bahwa mahasiswa
harus semakin cakap dalam menyelesaikan
suatu permasalahan, berkompetisi dan meningkatkan kemampuan bisnis dalam
menangkap peluang dan berkompetisi di MEA dan Revolusi Industri 4.0 berdasarkan
panggilannya atau singkatnya profesi yang ditekuni.
Tetapi hal tersebut bukanlah hal yang
mudah dilakukan karena para mahasiswa perlu memiliki mental yang kuat untuk
merintis dan mengembangkan suatu usaha, selain mental yang kuat, perlu adanya
pendanaan serta adanya persaingan yang perlu dihadapi, selain itu juga terdapat berbagai kendala lain
yang perlu diperhatikan. Oleh sebab itu, perlu strategi dan inovasi untuk
merintis dan mengembangkan suatu usaha
sehingga dapat bersaing dalam pasar ekonomi global.
B.
Tujuan
Tujuan dari artikel ini
adalah untuk menganalisis serta menentukan strategi yang efektif dalam
perintisan dan pengembangan usaha yang perlu diterapkan Mahasiswa dalam menghadapi
Persaingan Global dan Revolusi Industri 4.0
C.
Pembahasan
Perlunya strategi untuk merintis serta mengembangkan
suatu usaha sehingga dapat bersaing dalam pasar ekonomi global, berikut paparan
strategi dan inovasi yang perlu dilakukan oleh mahasiswa
1.
Strategi
dalam Perintisan usaha
a. Pengenalan
Akan Jenis Usaha yang Perlu Dirintis
Pengenalan akan jenis
usaha yang perlu dirintis merupakan suatu hal dasar yang perlu dipikirkan, hal
berikut merupakan pertanyaan yang perlu diajukan sebelum memulai sebuah usaha
1) Apakah
suatu usaha yang akan dirintis memiliki prospek yang bagus atau tidak?
2) Apakah
sesuai dengan selera pasar ?
3) Apakah
sesuai dengan bidang yang dikuasai dan juga tertarik akan hal tersebut?
4) Seberapa
paham penguasaan akan bisnis tersebut ?
5) Apa
yang perlu dicapai kelak ?
6) Seberapa
paham akan kesulitan yang akan dihadapi ?
Hal-hal
tersebut didukung oleh pendapat dari Nurseffi Dwi Wahyudi seperti yang dilansir
dalam liputan6.com yang mana dikatakan bahwa sebelum usaha bisnis di bidang
apapun, perlunya riset serta kajian terhadap pasar, pesaing dan juga pendapat Eril
Obeit dalam https://Jurnal.uns.ac.id, pendapat yang sama juga dijelaskan dalam sebuah artikel
di cermati.com yang mengatakan bahwa dalam memabangun bisnis, setiap orang
membutuhkan pemahaman, pengetahuan dan keahlian yang mumpuni untuk mengelolanya
Untuk memudahkan serta menentukan strategi
dalam merintis usaha, perlunya membuat Proposal Usaha sebagai bahan
pertimbangan merintis usaha.
b. Pemilihan
Lokasi yang tepat
Pemilihan Lokasi dalam
membuka usaha merupakan hal yang perlu diperhatikan, berdasarkan penelitian
mengenai faktor pemilihan lokasi terhadap efektivitas pasar panggung rejo oleh
YP Siswantika dkk dalam https://jurnal.uns.ac.id bisa menjadi salah satu acuan bahwa
pemilihan lokasi yang tepat adalah hal yang perlu diperhatikan, adapun kriteria
lokasi yang tepat adalah
1) Aksesbilitas
atau jalan masuk pembeli melihat serta memperhatikan tempat usaha kita dan juga
akses konsumen untuk mendatangi lokasi usaha mahasiswa.
2) Aktivitas
Pendukung
3) Keberadaan
Pesaing
4) Keramaian
5) Visibilitas
Selain
itu ada juga beberapa pertimbangan pemilihan usaha yang strategis menurut https://bisnisukm.com, yaitu
1) Tingkat
kepadatan penduduk sekitar lokasi
2) Besar
pendapatan masyarakat sekitar lokasi
3) Memperhatikan
tingkat keramain lalu lintas kendaraan bermotor yang lewat
4) Banyaknya
usaha yang mendukung lokasi tersebut
5) Lokasi
dengan tingkat kompetisi rendah
6) Akses
7) Tingkat
keamanan yang ada
8) Kebersihan
Lokasi
Selain
itu ada pendapat yang diambil dari https://matahidup.com yang memberi pertimbangan
bahwa sebelum memilih lokasi usaha perlu adanya riset berdasarkan analisis SWOT
(Strengths, Weakness, Opportunity, and Threats)
c. Mengerti
strategi marketing yang perlu diterapakan
1) Berdasarkan
jurnal.id, ada 7 strategi marketing dalam mengembangkan usaha
Membangun brand yang
kuat dengan cara paling awal dengan memperkenalkan identitas brand ke calon
pembeli lewat media sosial dikarenakan Berdasarkan Kompas.com, rata – rata
orang Indonesia menghabiskan tiga jam 23 menit dalam sehari untuk mengakses
media sosial, oleh sebab itu promosi di sosial media merupakan cara efektif
untuk mengenalkan produk kepada banyak orang, beberapa sosial media yang paling
efektif adalah instagram dan facebook dengan banuan fitur facebook ads dan juga berpromosi sesering mungkin serta mendapatkan
testimony
2) Membuat
logo yang menarik
3) Menulis
konten sebagai strategi marketing dalam situs – situs komunitas secara menarik
4) Melakukan
riset pasar
d. Pengenalan
Selera Pasar
e. Penggunaan
Modal dengan bijak
f. Menemukan
keunikan dari produk
g. Melakukan
evaluasi setiap saat
Berdasarkan https://centrausaha.com yang mana sedang mambahas tentang konsep pemasaran, ada empat
faktpr yang merupakan poin evaluasi, yaitu :
1) Solusi
Pelanggan (Customer Solution) yang
mana merupakan evaluasi apakah produk kita dapat membantu dan memecahkan
masalah konsumen atau tidak
2) Biaya
Pelanggan (Customer Cost) yang mana
merupakan evaluasi apakah harga yang dibayarkan konsumen untuk membeli produk
tersebut sesuai dengan kebutuhannya
3) Kenyamanan
(Convenience) yang mana merupakan
evaluasi apakah mampu menyenangkan konsumen
4)
Komunikasi (Communication) yang mana merupakan evaluasi apakah komunikasi
produk kepada konsumen secara benar dan tepat sasaran.
Jadi dapat disimpulkan bahwa pengenalan dan
riset secara detail dan mendalam dengan menggali berbagai aspek akan jenis
usaha yang akan digeluti merupakan pertanyaan mendasar sebelum merintis usaha.
2.
Strategi
Pengembangan Usaha
Strategi
pengembangan usaha agar semakin sukses dimulai dari dasar perintisan usaha yang mana selanjutnya
diteruskan dengan melaksanakan strategi – strategi yang berupa pengenalan usaha
yang akan dirintis dengan inovasi setiap saat.
Selain
hal tersebut, perlu juga campur tangan dari perguruan tinggi serta pemerintah,
salah satunya dengan memberikan sosialisasi, motivasi dan pelatihan secara
berkala, hal tersebut telah dilakukan oleh Universitas Sebelas Maret dilansir
dari https://https://uns.ac.id/id/uns-update/pmw-buka-kesempatan-mahasiswa-untuk-kembangkan-bisnis.html melalui program PKM (Program Kewirausahaan Muda)
D.
Kesimpulan
Mahasiswa
perlu memiliki strategi yang efektif dalam perintisan dan pengembangan usaha
untuk menghadapi MEA dan Revolusi
Industri 4.0 dengan segala tantangannya, tidak hanya berorientasi pada
pencarian pekerjaan saja, perintisan dan pengembangan usaha tersebut perlu dimulai
dengan pemahaman akan usaha yang akan digeluti dan juga tekad kuat konsisten
berjuang dalam mengembangkan usahanya dengan berlandaskan inovasi.

Komentar
Posting Komentar